Semua tahu, membicarakan Yasop dan semua yang berhubungan dengannya tidak akan ada habis-habisnya. Bahkan jika kau siswa paling pendiam sekali pun, setelah kau lulus kau akan punya banyak cerita. Sebenarnya, mengingat apa yang sudah dialami, setiap siswa Yasop sudah bisa bikin novel. Meskipun akan banyak kesamaan materi, tetapi karakter setiap orang akan menentukan alurnya masing-masing, konflik yang diangkat, bagaimana pemeran utama menyelesaikan konflik, dan ending dari cerita tersebut.
Aku sendiri sangat ingin tahu, bagaimana Marlina menjadi penulis dan dia sebagai pemeran utama dalam cerita yang ditulisnya; bagaimana dengan Bernath? Kalau Sherly? Atau..kira-kira konflik apa yang akan diangkat si Adi Chandra kalau dia yang menulis ceritanya?
Membayangkan ini, membuat aku semakin penasaran. Karena di asrama, sering kali kita merasa hanya sebagai stunt man atau pemeran pembantu. Entah siapa yang jadi pemeran utama. Kalian sendirilah yang menentukan.
Kalau aku, selama aku kelas I, yang menjadi pemeran utama adalah pengawas. Waktu kelas I, perhatianku lebih banyak tercurah pada hal-hal detil seperti: topi IB-ku udah pas belum ya, letaknya? Cek. Kolorku yang ada di ember kecil udah kucuci, belum? Cek. Hanger yang tergantung maksimal 2? Cek. Sepatu udah rapi di rak? Cek. Baju kotor udah dilipat di lemari bawah? Cek. Hhh..lega deh, sekarang giliran mikirin tugas Kimi…eit.tunggu! Gelas bekas minum susu tadi pagi udah dicuci?
…..Eng..ing…eng…Karpioooo..lll…! Jagiring…ng…! Bisa-bisanya aku lupa? Matema!
Read the rest of this entry »