Batak – Banyak Taktik or Banyak Taktak? :-))

BAH, AKU MERELAKAN diriku naik kereta dari stasiun Kota sampai Depok. Masih satu bulan di Jakarta, kupikir aku sudah cukup mengenal kota ini, dari sisi yang sebenarnya. Aku masih belum terbiasa dengan ”ketidakpedulian lingkungan” yang kulihat.

Di kota kelahiranku, Sidikalang, kalau naik ”sudako” penumpang akan selalu ditunggu hingga duduk manis di jok. Atau seperti di Medan, sopir angkot tidak akan berani menyetir dengan seenak perut yang menyebabkan penumpang sport jantung. Sebentar direm, sebentar dipercepat. Kalau sopir melakukan itu, bisa-bisa menyesal hidup dia diteriaki inang Beru Tarigan!

Tapi ada juga hal yang tidak kusuka dari kampung kita di Medan dan sekitarnya, yaitu mengenai ” kepuasan pelanggan”. Di Medan, kalau seorang penjual bersikap manis terhadap pembeli, dia akan merasa sedang merendahkan derajatnya di depan pembeli. So, dia ga akan melakukan itu. Jadi, istilah ” Pembeli adalah raja” masih seperti mimpi di sini, di banyak tempat.

Selama dia Batak, dia selalu raja. Atau istri raja, anak raja, tetangganya raja, atau kulinya raja. Tentunya yang seperti ini tidak berlaku bagi perusahaan skala besar atau yang sudah profesional.

Pernah, aku mau mengkopi beberapa file dan petugasnya sedang ngobrol dengan teman-temannya sambil makan siang. Dia cuma bilang, ”Tunggu ya, Bang. Makan dulu.” Lalu dengan cueknya melanjutkan makan siang dan ngobrolnya. Padahal dia duduk tepat di depan mesin foto kopi sialan itu.

Pernah juga, aku kehausan dan membayangkan minum fruit tea. “Kak, minta fruit tea-lah satu”. Ketika dia menyodorkan botolnya, sambil sedikit gondok aku bilang, ”Lho, saya kan minta fruit tea. Bukan teh botol.”

Tahu apa jawaban ibu-ibu paruh baya ini? ”Sudahlah, Bang. Sama sajanya itu.” Aku minum dengan pasrah.

Ada lagi, yaitu ketika aku balik dari Sun Plaza dan minta petugas memanggilkan taksi yang pakai argo. Ketika sampai di Padang Bulan, aku bertanya ke sopir, ”Berapa, Bang?”, sambil melongok ke argo.

” Argonya ga ada, Dek.”

” Lho, kan ini taksi argo?”. Mulai kesal dan merasa dibodoh-bodohi.

” Iya memang, tapi kalo argonya rusak mau dikekmanakan?”. Dia menjawab sambil menunjukkan argo yang mati.

Sialan, dari tadi dia menutupi argometer dengan handuk sehingga aku tidak bisa lihat! Penipu! Tertipu! Batak dilawan…. Batak… banyak taktik. Ah, yang satu ini bukan cuma banyak taktik, tapi juga banyak taktak!

” Jadi saya harus bayar berapa?”

” Sudah, kasi saja 50.000, Dek.” Aku bukan adekmu!

Pelajaran yang bisa kuambil dan kuamati dari sini adalah, jangan terlalu bersikap ”mengalah” seperti orang Jakarta. Atau harga dirimu akan berjatuhan. Di Jakarta, sering kali orang meminta maaf untuk sesuatu yang tidak dilakukan. Di Medan, kata maaf sepertinya hilang ditelan angin. Dua-duanya ga ada yang bagus. Yang satu bodoh, yang lain dodol. Malah, dalam bahasa Toba, aku tidak menemukan kata ”maaf”. Paling yang mendekati adalah ”marpanganju”. Mana ada orang pakai kata itu di jalanan.

Itu sebabnya, keadaan demikian yang membuat ”aura” di Medan lebih panas. Masing-masing pihak berjuang mendapatkan hak dan pride. Kalau kau lebih cerdik, nekad, atau lebih kuat, kaulah yang ”menang”. Ngomong-ngomong soal nekad + cerdik, masih ingat laki-laki yang berhasil menginjakkan kaki di Jakarta dengan cara masuk bagasi pesawat? Bah, Tulang! Hitler pun tidak bisa melakukan itu!

Tapi, halak hita memang lugas-lugas kali. Lihatlah seorang gadis muda asal Sipiongot yang baru diterima kuliah di salah satu PT di Medan. Dia baru membeli hp ” Sejuta Umat”. Dengan bantuan temannya, hp itu sekarang sudah bisa digunakan. Tiba-tiba terdengar suara memekakkan telinga di dalam angkot, yang ternyata dari hp-nya. Ini adalah pertama kalinya hp itu berbunyi. Dia segera mengangkat. Dengan suara keras dan sangat antusias berkata, ”Halo? Sms do on?” Gubrakkk!!

Anyway, setelah hampir busuk menunggu di jalur 12, terdengar suara yang capek tapi tetap semangat dari petugas peron, “Kereta api jurusan Bogor berangkat lebih dulu dari jalur 11”. Terdengar suara dari mikrofon di atas kepalaku.

Sambil menggumam pasrah, para penumpang berbondong-bondong berebutan keluar dari kereta api di jalur jalur 12 menuju jalur 11. Padahal tidak sedikit dari mereka yang sudah menunggu sejak sejam yang lalu dan akhirnya berhasil mendapatkan tempat duduk.

Ngapain sih lari-lari segala, tetap aja bakal berdiri dan saling desak. Kalau sudah begini maka yang berlaku adalah pepatah baru: Tiada akar tahi pun jadi (Akar kan menggunakan zat-zat yang ada di tahi untuk jadi bahan makanan. Ini setingkat di bawah pepatah “Tiada rotan,akar pun jadi”. Padahal biasanya aku selalu berkeras dengan “Tiada rotan, cari jati”) Dan benar saja, di tengah kesesakan itu, aku bisa berdiri lebih dekat ke pintu dan “berlindung” di besi-besi penyangga. (Ini yang kumaksud dengan “tahi”)

Setelah menunggu kira-kira 15 menit, kereta mulai bergerak, seiring tetesan keringat di bagian-bagian tertentu. Untuk tiba di UI, aku harus melalui 14-15 stasiun. Dan masih di stasiun pertama, kereta sudah 4/5 penuh. Dengan tanpa percepatan yang berarti, kereta baru melewati empat stasiun. Stasiun demi stasiun berlalu, tapi jumlah penumpang yang turun sepertinya mengikuti deret aritmatika menurun dan yang naik mengikuti deret geometri menaik. Nafas mulai sesak. Aku agak mendongakkan kepala ke atas, berharap ada oksigen yang lewat dan belum digunakan oleh manusia-manusia yang ada di sekelilingku. Kadang-kadang aku memang mendapatkan oksigen, tapi lebih sering mendapatkan beberapa senyawa yang mungkin belum pernah diajarkan Bu Barasa dan Pak Parmono, guru Kimia ketika aku SMA di Balige.

Pernah suatu kali aku menghirup nafas, tapi yang masuk ke hidungku adalah bau yang tidak bersahabat. Mmm…bau jagung rebus yang sudah basi. Ternyata berasal dari mulut busuk laki-laki yang ada di depanku. Aku memaafkanmu, Pak. Aku membathin.

Pernah juga aku menghirup bau ikan mati. Asal muasalnya dari usus 12 jari seorang bapak yang sejak tadi diam, dan tiba-tiba membuka mulutnya untuk bergumam lirih. Tuhan, berikan aku kekuatan… Aku membathin lagi. Aku terus bertahan.

Di sini, jangan berharap emansipasi. Laki-laki penyok, perempuan juga penyok. Aku berharap ”Ibu Kita Kartini” ada di sini. Setiap orang harus pintar menggunakan bokongnya untuk menepis orang-orang yang terus mendesak, sambil tetap berpegangan pada benda apa saja yang ada di depanmu. Saat genting seperti ini, aku bahkan berharap laki-laki yang di depanku rela ”meminjamkan” giginya yang kebetulan banyak nongol untuk kujadikan pegangan. Mengertilah, badanku pendek.

Drama perjuangan ini masih terus berlanjut, tapi aku ibarat daging kambing iris yang dikipas-kipas abang penjual sate padang di atas bara api. Makin lama makin panas… nafas-nafas menyatu, kaki-kaki saling tepis. Tanpa unsur dramatisasi, aku tidak tahu kakiku tepatnya berada di mana. Dari tadi bapak yang berdiri di sebelahku berjuang lebih banyak, sampai-sampai urat-urat mukanya menonjol. Dia lebih pendek dari aku. Kasian kamu, bapak…

Kupikir aku harus menghentikan ini. Di stasiun Tanjung Barat, aku memutuskan untuk turun. Masih ada 3 stasiun lagi, tapi otakku mulai kekurangan udara bersih. Kuputuskan untuk naik metromini saja.

Naik metromini, jangan berharap banyak untuk dapat tempat duduk. Lagi berdiri, mataku tertumbuk pada seorang gadis berjilbab yang sedang tertidur. Cantik sekali dia. Dengan alis mata yang lebat, dan bibir yang merah. Aku memandanginya, sambil menghirup udara malam Depok yang segar, karena barusan diguyur hujan. Ternyata aku tidak sendiri. Laki-laki yang duduk di depanku terbangun dari tidurnya, dan belum selesai mengumpulkan nyawa, matanya juga langsung tertumbuk ke gadis berjilbab itu. Ah, dasar laki-laki. ”Kebuayaannya” selalu nempel dalam setiap situasi. That’s us!

Tiba di kost, aku segera mandi dan memikirkan kejadian hari ini. Teori yang kuajukan hari ini: Di Jakarta, orang menjadi sepertinya tidak peduli karena dibentuk oleh lingkungan/sistem. Seperti tidak menempatkan manusia sebagai manusia, terutama bagian pelayanan masyarakat (bus, kereta, dll) yang diurusi oleh pejabat-pejabat korup yang sudah tidak punya muka.

Di Medan, orang menjadi sepertinya tidak peduli karena bawaan lahir. Maksudnya sifat-sifat dasar yang ditanamkan sebagai ”keturunan raja”. Aku tidak bisa merubah semua itu. Aku hanya perlu belajar dari apa yang kulihat dan memperbaiki diriku sehingga tertular kepada orang lain.

Dan aku sangat menyetujui Marthin Luther King Jr. yang mengatakan bahwa pendidikan yang bermutu adalah perpaduan antara intelligence and character. Soal intelligence, secara umum, mungkin orang Batak tidak perlu diragukan. Tapi mengenai character, menurutku, masih banyak yang harus kita perbaiki.

By Klemens Sinaga

Mardongan Roha dohot Tingki

One Response to Batak – Banyak Taktik or Banyak Taktak? :-))

  1. Royal says:

    Salut bro…. antap….keep posting! ratusan kali lebih lucu dari OVJ…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: