Surat buat sobat

Tulisan ini spesial kudedikasikan buat kawan yang siap-siap untuk medical…hehehe…

My friend,

Melihat hasil pengumuman UMPTN tahun 1999 tak ada rasa syukurku sedikit pun. Yang ada mukaku mutung terus, sampai-sampai mama dan kakak-kakakku enggan ngajak ngomong. Begitulah, kujalani setahun kuliah sambil setengah-setengah. Sambil mengikuti kuliah, diam-diam aku mempersiapkan diri untuk UMPTN tahun selanjutnya. Sementara dosen menjelaskan mengenai perubahan sistem ekonomi di dunia, yang ada di depanku adalah pembahasan madas dan berbagai “jembatan keledai”.

Tak terasa, waktu berlalu, dan hari yang dinanti-nanti tinggal 2 hari lagi. Pas udah siap jiwa dan raga, nyaris seperti di sinetron, aku jatuh sakit. Demam. Demam yang sangat tinggi. Saking sakit dan lemahnya badanku, jalan ke kamar mandi pun agak susah. Terseok-seok.

Untung aja di saat-saat genting itu datang dua orang kakakku, ganti-gantian dan bagi tugas mengurusi aku. Malam menjelang UMPTN, aku masih sakit. Tapi, yang ada di kepalaku Cuma 1: Aku harus UMPTN besok. Dan aku bilang sama Tuhan, “ Tuhan, yang kutahu besok aku akan ujian. Ga peduli apapun keadaanku sekarang ini, aku harus ujian. Aku ga mau semua kerja keras dan doaku selama satu tahun ini kandas hanya gara-gara aku sakit!”

Sore itu kakakku beli bubur dari Pringgan. Tau sendiri porsinya segede apa kalo beli makanan di Medan. Buanyak banget. Tapi, semua bubur itu kulahap.  Aku ga berhenti minum. Pokonya segala sesuatu yang menurutku bisa membantu badanku untuk pulih, kulakukan.

Ajaibnya, besok paginya aku bangun dengan lebih segar. Masih agak sempoyongan, tapi aku udah bisa jalan. Aku pun ujianlah.

Dan betapa girangnya hati ini ketika aku akhirnya lulus di pilihan I. Pilihan yang kutentukan dan kuingini. Pada saat itu, seperti setiap sel darahku ikut merayakan kemenangan ini.

Tahun-tahun pertama kuliah tidak ada masalah. Aku malah begitu semangatnya. Malah, tiap hari aku ke kampus dengan baju dimasukin ke dalam. Ala Yasop gitu dah.. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini (untungnya) runtuh. Aku mulai pake sendal, pake kaos.

Di kampus, aku mengikuti beberapa organisasi, dan aku menikmatinya. Tapi, belum ada nikmatnya yang bisa menyamai kalau aku terlibat di kegiatan alumni Yasop, meskipun itu Cuma nyiapin acara natal yang target terbanyak peserta adalah 50 orang.

Seiring berjalannya waktu, satu-satu masalah mulai datang. Atau, aku mulai kehilangan fokus kuliah. Banyak hal yang sifatnya prinsip buatku malah kutemukan bertolak belakang ketika di kampus. Banyak hal-hal yang dulunya kuharapkan bisa kutemukan di kampus ternyata tidak sesuai dengan harapanku. Aku selalu bilang, “ Ini adalah kampus terbaik di Indonesia. Masa Cuma ini bisanya? Sistemnya seperti ini?”

Aku banyak kecewa dengan sistem. Aku sempat berpikiran bahwa dosen-dosen ini ngajar Cuma mau kejar tayang aja. Atau mahasiswa di sini belajar Cuma sekedar bisa menyelesaikan soal UTS dan UAS. That’s it. Lalu aku melihat ke dunia pekerjaan. Dan kupikir, “ Enak aja kalian menilai aku dari nilai A, B, C?!” Kalau aku lagi bagus memprediksi soal ujian, aku bisa dapat A. Kalo lagi sial, bisa dapat C atau D.

Aku juga menganggap sistem renumerasi di negara ini hancur kali. Benar-benar memeras karyawan. Apalagi kalau kau tinggal di Jakarta, bisa dibilang sepanjang minggu hidupmu adalah untuk pekerjaan. Soalnya, di jalan aja bisa menghabiskan waktu sampai 5 jam PP. Aku ga pernah sudi mau “bergabung” dalam kubangan sistem itu.

Entahlah…aku sendiri pun kurang mengerti. Yang kutahu, perasaanku saat itu hanyalah merasa “ini ga benar!”. Kalau pun orang lain melihatnya sebagai “pembenaran”, akhirnya pembenaran-pembenaran ini membawa aku kepada “ketiadaan gairah” mengikuti kuliah.

Aku bisa aja datang ke kelas, ga absen. Tapi pas giliran UTS, aku sengaja ga datang. Dan ga ada perasaan bersalah. Lama-lama, aku benar-benar menghilang. Pernah, ketika aku nongol di kampus, teman-temanku pada bilang, “Lho, Men, kirain lo cuti”, atau yang lebih parah: “ Kirain lo udah mati.”

Kondisi terburuk yang pernah kuingat adalah: Pernah aku nanya ke salah seorang anak Orange, “ Hari apa sekarang?”. Dia jawab saat itu kalo ga salah hari Kamis. Aku terdiam. Aku berusaha mengingat-ingat hari terakhir yang pernah kuingat. Seingatku, kemarin adalah hari Jumat. Ko bisa sekarang Kamis? Mati-matian aku mengingat apa yang kulakukan selama seminggu, tapi otakku benar-benar blank. Aku ga ingat hari. Aku mau gila saat itu. Memaksakan otakku untuk mengingat, tapi tak ada yang mau diingat.

Kondisi terburuk lain adalah, ketika Bang Hermanto nginap di kamarku. Hari pertama dia datang, lampu kamarku bermasalah. Alias mati. Pikirku, “Ntarlah kubeli lampu baru.” Malam demi malam berlalu, aku melewati  malam tanpa lampu. Satu hari, dua hari, satu minggu..dua minggu….. Dan aku baru benar-benar tersadar setelah hampir 2 bulan!Selama dua bulan aku di kamar ini dan lampu pun tak bisa kuberesin!

Dalam kondisi yang serba gerah ini, aku mendengar berita suatu hari di Sabtu pagi ketika aku lagi ngobrol-ngobrol di kosan si Conny. Stella juga lagi ada di situ. Beritanya, mamaku meninggal. Seperti orang sinting, setengah ketawa aku bilang ke Conny dan Stella setelah menutup telpon, “Mamaku sudah meninggal.” Mereka berdua Cuma bengong.

Setelah mama dikebumikan, aku ga punya alasan untuk balik ke Jakarta. Kupikir, buat apa? Selama ini, kalau orang nanya tentang rencana masa depan atau ketika aku memikirkan masa depan, selalu ada mama di sebelahku. Untuk apa pun yang kubayangkan, selalu ada mama di sana. Karena aku memang pengen melihat dia bahagia dan bangga akan anak siapudannya ini. Entah apa pendapat mamaku tentang aku. Tapi aku tahu, dia bangga kali sama anaknya ini. Cuma, menurutku  aku belum melakukan apa-apa.

Pada saat itulah aku sadar betapa pentingnya setiap orang memiliki mimpi, cita-cita. The power of the dream!You need at least one dream. Karna, ketika mamaku meninggal, otomatis cita-citaku pun seperti ikut mati. Karna itu tadi, sepanjang aku punya cita-cita, selalu ada mama di sana.

Ngeri kali rasanya. Die inside. Orang Cuma bisa menebak apa yang sedang terjadi padamu, tapi mereka ga akan pernah tahu.

Singkat cerita, aku akhirnya menyelesaikan kuliah. Total jenderal 6 tahun. Plus 1 tahun di Medan, jadinya 7 tahun. Jujur, aku ga merasa seperti layaknya orang berhasil jadi sarjana. Satu-satunya kelegaanku adalah “akhirnya penderitaan ini berakhir juga”.

Memanglah, aku ga layak merasakan hal yang lebih tinggi lagi dari itu. Buatku, itulah perasaan terbaik saat itu. Mengingat kondisi yang selama ini aku jalani.

Tapi, ternyata yang terjadi setelah itu adalah di luar dugaanku. Pelan-pelan, aku lebih pede. Malah, kebanggaan sebagai seorang sarjana mulai terbersit. Setidaknya, aku tidak menyia-nyiakan perjuangan mamaku selama ini.

Dalam kondisi ketika kau sudah muak dengan perkuliahan, dan menganggap bahwa kau bisa maju tanpa harus menyelesaikan kuliah, mungkin kau benar. Tokh, banyak orang sukses di dunia yang tidak pernah menyelesaikan kuliahnya. Mungkin kau benar berpikir seperti itu. Tapi, kau juga mungkin keliru.

Aku janji, ketika kau memutuskan untuk menyelesaikan kuliahmu ini, usahamu akan makin sukses. Kau akan mengalami sesuatu yang disebut AKSELERASI. Mengapa? Karena kau telah berhasil menaklukkan egomu! Menaklukkan ketakutanmu! Menaklukkan hal yang kau tidak sukai! Menaklukkan sikap status quo! Menaklukkan dirimu sendiri! And it feels good, my friend!

Mungkin orang di luar sana melompat kegirangan ketika lulus karena dia akhirnya bisa segera melamar di perusahaan bagus. Tapi, orang seperti kita tidak akan melompat kegirangan. Itu karena saking kita tidak bisa mengekspresikan perasaan terdalam kita. Perasaan yang selama ini kita pendam, akhirnya membuncah. Biasanya, kita hanya akan tersenyum.

Tapi, pelajaran yang kita peroleh tidak akan pernah sama seperti yang mereka dapatkan. Pelajaran kita adalah tentang hidup, dan tentang diri kita sendiri.

So, my friend, senyaman apa pun keadaanmu sekarang, atau setidaknyaman apa pun, aku tahu: jauh di lubuk hatimu, kau ingin menyelesaikan semua ini.

Kawan, percayalah bahwa kau sudah memiliki segala hal yang kau butuhkan. It’s not about how wealthy you are. It’s nothing to do with money.

Orang-orang yang mencintai kau, terutama orang tuamu, ingin melihat kau bisa menyelesaikan ini. Mungkin mereka menganggap ini bukan lagi sekedar “ Bagaimana agar anak kita bisa jadi sarjana?”, tetapi lebih dari itu. Mungkin dalam pemikiran mereka saat ini bukan sekedar itu lagi. Tetapi, “Bagaimana kita bisa mendampingi anak kita sampai dia  akhirnya bisa melalui semua ini?”. So, saat ini, bukan Cuma kau yang berjuang. Mama pun jadinya ikut berjuang. Mungkin tidak kau sadari, tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Mungkin mama ga ngomong, tapi dia sedang mendampingi kau dalam perjalananmu ini. Mungkin keliatannya baik-baik saja, tetapi mama juga menunggu.

So, apa yang bisa kuberikan selain transfer energi dan semangat yang tulus supaya bisa menggerakkan hatimu.

Kumpulkan lagi passionmu.

Ambil satu keputusan.

Dan selesaikan kuliahmu.

God always be with you, if you ask Him to.

Mauliate.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: