Reuni Nostalgia (1) by Ruby Alexandrite

Sepuluh tahun tahun yang lalu aku berdiri di jejak yang sama. Ketika berat badan masih 48 dan usia 18 kurang dua. Setelah memenangkan pertandingan dengan para juara. Kala itu, sekolah ini memang idola. Selain karena bebas biaya, disiplinnya diutamakan pula. Seleksinya berbeda dari kebanyakan SMA. Setiap tahun hanya merekrut 40 orang siswa. Siapa pun mendambakan tinggal di asmara yang sekarang di depan mata. Masa depan para juara. Sekaligus pembuktian nama.

Masih terekam di kepala ketika tahu ternyata diterima. Alangkah bangga rasanya. Orangtua pun mendapat ucapan selamat dari mana-mana. Harus kurelakan pula, rambut panjang menjadi setelinga, di tangan bu Linda. Ketika pertama menapaki batu-batu merah itu, lututku gemetar dan berkecamuk segala rasa. Tak mungkin membalikkan badan karena berarti gagal sebelum mencoba. Kutepiskan segala keraguan dan tersenyum pada penjaga. Kulambaikan tangan pada orangtua. Semburat bangga masih melekat di wajah mereka.

Asrama ini luas luar biasa. Beberapa bangunan digunakan untuk menampung para siswa. Ada aula. Lapangan olahraga. Gunung di belakangnya. Aku memasuki sebuah kamar dengan tiga rekan lainnya. Memang disiapkan segala sesuatunya untuk empat kepala. Dua pasang meja, dua pasang lemari, dan dua kasur bertingkat dua. Membuat kami sesat terpana. Tapi itu hanyalah mula dari kisah di asrama. Ketika usia masih 18 kurang dua.

Sebuah tepukan membuatku terjaga. Aku melihat ke arah jam tiga. Kemudian tertawa. Sepuluh tahun lalu, tangan yang sama telah membantuku menghabiskan makan siang yang tiada rasa. Tangan yang sama yang membantuku mendaki puncak gunung di belakang asrama. Tangan yang hingga kini tak pernah lupa memberi selamat ketika aku berjaya. Tangan yang merangkulku pula pabila berduka. Bersama kami memandang asrama. Yang luasnya luar biasa. Sekolah 40 juara setiap tahunnya.

Tiba-tiba seseorang berteriak pula. Memanggil-manggil kami berdua. Berlari kecil dia mendekati asrama. Kami berdua menoleh ke arah jam tiga. Kemudian kami tertawa. Sepuluh tahun lalu, teriakan ini mampu meredam murka. Ketika letnan dua menyuruh ke 40 siswa mengitari lapangan bola di bawah garangnya matahari asrama. Teriakan yang membakar semangat korsa. Dan kini kami bertiga berdiri seperti sepuluh tahun silam di jejak yang sama. Di depan asrama yang punya lapangan olahraga. Tiap sudutnya punya nostalgia. Meski sekarang banyak yang sudah berbeda. Sungguh tak akan mungkin ku lupa. Pohon-pohon pinus yang dulu remaja kini dewasa. Kala itu kerap aku bercerita padanya di dalam kepala.

Bagaimana kalau kita memasuki asrama ? Tentu lebih banyak lagi reuni nostalgia. Kami pun melangkah bersama. Di atas merahnya bata. Melewati pohon pinus yang sudah dewasa. Melewati lapangan olahraga dimana 40 siswa sedang berbaris menunggu aba-aba. Melewati koridor panjang yang diebut selasar oleh para siswa. Tempat berkumpul apabila waktu makan tiba. Beberapa siswa terlihat push up sepuluh kali dua. Hukuman bagi yang terlambat berbaris pabila waktu makan tiba. Hukuman yang tidak seberapa. Demikian pendapat banyak siswa.(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: