Reuni Nostalgia (2) by Ruby Alexandrite

Tentu saja tidak seberapa. Setiap pagi dilatih harus bangun di pagi buta. Ditambah pula berlari mengitari lapangan asrama. Push up sudah seperti makanan utama. Kesalahan yang dilakukan kecil maupun besar seolah terbayar dengan jumlah yang setara. Kalau tidak, gunung di belakang asrama pun bisa jadi alternatif kedua. Tak ada tempat buat kesalahan di asrama.

Koridor panjang yang disebut selasar oleh para siswa adalah juga tempat bertemunya asmara asrama. Sekedar curi waktu berbincang dengan idola. Sembari waspada akan pertanyaan Letnan dua yang seolah selalu muncul dimana-mana. Bukankah tempat apapun terlihat indah bagi mereka yang sedang jatuh cinta. Sekarang, ada yang sudah punya anak dua. Kelak pabila mereka kembali, tentu tidak akan lupa selasar asmara. Selasar yang mempertemukan mereka.

Sembari terus bernostalgia, sapaan hormat terdengar di mana-mana. Semi militer memang diterapkan di asrama. Senior adalah yang utama. Senior seolah raja. Membuat ciut nyali pula. Pabila kita belum kelas tiga. Belum senior kelasnya. Mungkin, beberapa siswa masih menyimpan sakit hati tersisa. Dan berharap kelak tak bertemu pula. Dengan senior yang dahulu meninggalkan luka. Di sekolah pembuktian nama. Tak ada tempat buat kesalahan di asrama. Tak ada apabila belum kelas tiga.

Hari ini menunya apa ya? Seingatku, daging tidak disajikan di hari Selasa. Para siswa satu per satu memasuki aula. Dan ting..ting..ting..ting..aku menunggu itu suara. Lonceng kecil seukuran kepalan tangan yang harus dibunyikan oleh siapapun yang dipilih Ketua untuk memimpin doa. Dan setelahnya kesibukan akan terlihat dimana-mana. Tanpa bicara.

Kulewati kamar-kamar siswa. Rindu pun menyeruak untuk berbaring di sana. Sprei putihnya harus selalu rapi tertata. Tak boleh ada noda. Demikian pula lantainya, susunan bukunya, sepatunya. Dan yang paling sulit adalah ukuran pakaiannya. Tidak boleh lebih dari 20 cm panjang lipatannya. Kalau tidak, si Letnan dua akan mengobrak-abrik dan membuat pemilik kamar melongo sepulangnya dari aktivitasnya. Satu lagi, dia juga bisa memanggilmu keluar dari barisan dan mempermalukanmu kapan saja. Tidak ada tempat untuk kesalahan di asrama.

Di sana, para siswa seolah berlomba. Berlomba dengan waktu tersisa. Segala aktivitas ada waktunya. Dan sulit sekali menemukan jeda. Satu kegiatan akan dilanjutkan kegiatan lainnya. Dan tentu saja, belajar adalah yang utama. Karena untuk itulah kami di sana. Membuktikan nama.

Tidur siang bagaikan permata. Dan para remaja akan bersorak apabila kesempatan itu ada. Tapi, entah mengapa. Waktu berharga tersebut akan tercuri oleh deretan aktivitas lain yang seolah siap mengisi kapan saja. Kerja bakti, latihan dansa, latihan paduan suara, rapat penerimaan siswa, nonton bersama, dan lagi-lagi belajar bersama. Lagi-lagi membahas Fisika. Lagi-lagi membahas Matematika. Kalau waktunya cukup dilanjutkan dengan Kimia.

Terlalu banyak nostalgia. Satu, dua lembar kertas tak akan bisa menampung semua kisah di sana. Perlahan aku menuju ke arah kiri aula. Meninggalkan dua sahabat yang entah kemana. Kembali ke pohon pinus yang kini dewasa. Untuk bercerita kisah yang berbeda. Yang tak disaksikannya. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: