Reuni Nostalgia (Fin) by Ruby Alexandrite

Sekali lagi kuedarkan pandang ke segala penjuru asrama. “Monci!! Jangan main watak!” Teriakan senior pelatih siswa itu serasa bergema. “Vampire! Hibur kawan-kawan mu itu” bergema dari Utara. “Ah, kau Molek. Belum habis juga makanmu. Poppy bantu dia!!” lagi bergema dari Tenggara. Prang!!!! Suara gelas pecah dari Barat Daya disusul teriakan senior pelatih siswa.

Kucoba mengingat nama-nama ajaib yang diberikan kepada para remaja. Aih, ternyata beberapa aku sudah lupa. Aku tertawa sendirian di bawah pohon pinus yang sudah dewasa. Memandang lapangan asrama. Mengingat para pemula menyantap makanan seketika. Mengingat mereka berjalan sedemikian rupa. Bagai tentara. Mengingat gerutu kekesalan siswa yang turut dihukum karena kesalahan teman sekamarnya. Mendengarkan gaung Prasetya Siswa. Mendengarkan teriakan gembira karena izin bermalam tiba. Waktu untuk bertemu keluarga.

Hm..Prison in Paradise demikianlah banyak alumni menyebutnya. Aku tidak pernah sepakat dengan mereka. Dan aku tak akan pernah menganggapnya demikian sampai kapan jua. Aku tak percaya ada penjara di surga. Tentu saja tak akan ada pula Fisika, Matematika dan Kimia. Meskipun itu ungkapan semata. Aku tak akan pernah menganggap asrama, penjara dalam surga.

Bagiku, asrama bukanlah surga. Bukan pula penjara. Sekarang aku bisa tertawa dalam reuni nostalgia. Dulu rasanya tidak mudah melaluinya. Tidaklah selalu menyenangkan tinggal di sana. Tapi, tidak juga selalu menderita. Ada banyak hal yang harus dikorbankan penghuninya. Meninggalkan rumah dan segala kehangatannya. Meninggalkan kebiasaaan umumnya remaja. Bangun di pagi buta. Belajar tak kenal masa. Sebagian bertahan karena menikmati setiap proses di sana. Sebagian lagi berpikir masa depan sebanding dengan ini semua. Sisanya berpendapat bahwa ini sebentar saja, tak lama lagi mereka akan mengakhirinya.

Tapi, ada banyak hal yang didapatkan para siswa. Mereka tumbuh menjadi remaja dewasa. Mereka tahu hendak kemana. Menjadi apa. Hal ini tidak akan ditemukan pada banyak remaja seusia. Mereka juga belajar bahwa keberhasilan tidak didapatkan begitu saja. Seringkali dengan kerja keras dan air mata. Seringkali harus mengorbankan banyak hal dalam hidupnya. Seringkali harus bangun di pagi buta. Dan, mereka belajar bahwa ada orang lain yang mengasihi mereka selain keluarga. Kelompok remaja dari berbagai daerah adalah keluarga baru mereka. Teman berbagi duka dan tawa.

Kehidupan setelah dari asrama tak lantas mudah bagi mereka. Gemblengan nan keras tak menjadikan mereka manusia super dan sempurna. Juga tak menjadikan mereka kuat laksana baja. Mereka terus beranjak lebih dewasa. Kadang melakukan kesalahan satu dua. Meski kini tak mendapat hukuman dari letnan dua. Mereka terus berupaya. Kadang mereka gagal dan merasa kecewa. Lagi-lagi mereka akan kembali berupaya. Mereka telah belajar bahwa keberhasilan tidak didapatkan begitu saja. Kadang pula mereka merasa lemah dan tak berdaya. Itu tak mengapa. Benarlah bahwa mereka bukan manusia sempurna.

Kadang orang lain kesulitan memahami mereka. Bagiku, mereka adalah mereka. Aku masih merasa seolah kami remaja. Seolah kami masih siswa. Seolah kami selalu bersama. Karena kenangan kami tak pernah lapuk ditelan masa.

Ya. Asrama adalah sekolah para juara. Bukan karena apa yang telah diraih para siswanya. Tapi, karena kami sadar bahwa kami bukanlah manusia sempurna dan kami akan terus berupaya.

Reuni nostalgia tak akin lapuk di telan masa.

Kalianlah para juaraku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: